PEMA dan PGN Percepat Hilirisasi Gas Aceh

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:56:51 WIB
PEMA dan PGN Percepat Hilirisasi Gas Aceh

JAKARTA - Upaya mendorong pemulihan ekonomi daerah pascabencana dan memperkuat ketahanan energi nasional kini diarahkan melalui pemanfaatan sumber daya gas bumi. Aceh, sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi gas signifikan, mulai mengambil langkah strategis dengan menggandeng mitra nasional untuk mempercepat pengembangan industri berbasis gas. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat sektor energi, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA resmi menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) untuk mengkaji pemanfaatan pasokan gas Mubadala di Aceh. Kerja sama tersebut menjadi fondasi awal percepatan hilirisasi gas sekaligus upaya membangun ekosistem energi yang berkelanjutan di provinsi paling barat Indonesia tersebut.

Kesepakatan ini mencakup kajian menyeluruh terhadap potensi gas yang tersedia, pengembangan infrastruktur, serta identifikasi industri-industri bernilai tambah yang dapat tumbuh berbasis gas bumi. Dengan kolaborasi ini, Aceh diharapkan mampu memaksimalkan sumber daya alamnya guna menggerakkan roda ekonomi daerah.

Landasan Kerja Sama PEMA dan PGN

Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA, Naufal Natsir Mahmud, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut menjadi langkah awal yang strategis bagi pengembangan industri hilir gas di Aceh. Menurutnya, kajian bersama ini akan menjadi dasar perencanaan yang terstruktur dan terarah.

"MoU [memorandum of understanding] untuk kajian bersama pemanfaatan pasokan gas Mubadala di Aceh guna mempercepat hilirisasi dan mendorong kebangkitan ekonomi daerah," ujar Naufal, seperti dilansir dari laman resmi PEMA, Senin 26 January 2026.

Ia menjelaskan bahwa stabilitas suplai energi merupakan faktor krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama bagi Aceh yang masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana. Ketersediaan energi yang andal dinilai menjadi prasyarat utama bagi masuknya investasi dan berkembangnya sektor industri.

Pentingnya Mitra Strategis bagi Aceh

Dalam pandangan PEMA, keberhasilan pengembangan gas bumi di Aceh membutuhkan dukungan mitra strategis yang memiliki pengalaman dan kapabilitas nasional. PGN dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem gas yang terintegrasi, mulai dari pasokan hingga distribusi ke pengguna akhir.

Naufal menegaskan bahwa sinergi antara PT PEMA dan PGN menjadi landasan penting dalam percepatan hilirisasi gas. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri Aceh, menarik minat investor, serta memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan adanya kerja sama ini, Aceh tidak hanya berperan sebagai daerah penghasil gas, tetapi juga sebagai pusat pengembangan industri hilir yang mampu menyerap tenaga kerja dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Ruang Lingkup Kajian Pemanfaatan Gas

Ruang lingkup kajian bersama antara PEMA dan PGN mencakup evaluasi potensi pasokan gas di Aceh, baik yang tersedia saat ini maupun proyeksi ke depan. Salah satu fokus utama kajian adalah keterlibatan Blok Mubadala sebagai sumber pasokan gas yang potensial.

Kajian tersebut juga akan memetakan kebutuhan infrastruktur pendukung, termasuk jaringan pipa, fasilitas CNG (compressed natural gas), maupun LNG (liquefied natural gas). Semua aspek tersebut akan dianalisis untuk memastikan kelayakan teknis dan keekonomian pengembangan gas di Aceh.

“PT PEMA akan melakukan studi mendalam untuk pengembangan beberapa tingkatan (tier), mulai dari proyek jangka pendek hingga jangka panjang,” tambah Naufal.

Pendekatan bertahap ini dinilai penting agar pengembangan gas dapat dilakukan secara realistis dan berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan pasar dan kemampuan infrastruktur yang tersedia.

Babak Baru Hilirisasi Gas Aceh

Langkah ini tercatat sebagai inisiatif pertama sejak PT PEMA berdiri dalam mendorong hilirisasi gas secara terstruktur dan berkelanjutan. Kehadiran PGN di Aceh juga disebut sebagai babak baru dalam pengembangan energi gas bumi di wilayah tersebut.

Menurut PEMA, kolaborasi ini membuka peluang besar bagi Aceh untuk mengembangkan industri berbasis gas, seperti industri pupuk, petrokimia, pembangkit listrik, hingga sektor manufaktur lainnya yang membutuhkan pasokan energi stabil.

Dengan demikian, gas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai komoditas energi, tetapi juga sebagai penggerak utama industrialisasi daerah.

Aceh sebagai Titik Vital Energi Nasional

Dari sisi PGN, Aceh dipandang sebagai wilayah strategis dalam peta ketahanan energi nasional. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menyebut Aceh sebagai titik vital (key point) yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pengembangan infrastruktur gas.

Pembangunan infrastruktur distribusi gas, baik melalui pipa, CNG, maupun LNG, menurutnya harus menjadi fokus utama dalam kajian bersama ini. Infrastruktur tersebut akan menentukan efektivitas penyaluran gas ke sektor industri dan pengguna lainnya.

"Kami memetakan kembali suplainya seperti apa, kemudian infrastruktur yang kita bangun nantinya, serta pemenuhan market,” kata Mirza.

Target Percepatan Realisasi

Meski MoU antara PGN dan PT PEMA memiliki durasi kajian selama dua tahun, PGN mendorong agar realisasi pengembangan dapat dilakukan lebih cepat. Mirza menargetkan agar hasil kajian sudah dapat diwujudkan pada tahun pertama kerja sama.

Terkini