Menilai Potensi Saham BBCA Jelang Laporan Keuangan 2025

Senin, 26 Januari 2026 | 10:29:17 WIB
Menilai Potensi Saham BBCA Jelang Laporan Keuangan 2025

JAKARTA - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) baru-baru ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. 

Meskipun demikian, banyak analis yang berpendapat bahwa harga saham BBCA kini berada pada titik yang menarik untuk rebound. 

Salah satu faktor utama yang bisa menjadi pendorong pergerakan saham ini adalah rilis laporan keuangan tahun penuh (FY) 2025 yang dinilai akan memberikan gambaran lebih jelas tentang prospek keuangan bank terbesar di Indonesia tersebut. 

Pasar berharap hasil laporan keuangan BBCA akan mengungkapkan kinerja yang positif, seiring dengan fundamental yang tetap solid meskipun harga saham sempat terkoreksi.

Pada perdagangan 23 Januari 2026 harga saham BBCA sempat menyentuh Rp7.550, yang merupakan level terendah sejak 17 Oktober 2025. Meskipun sempat tertekan, saham tersebut ditutup di Rp7.650 dengan volume perdagangan mencapai 2,03 juta lot dan nilai transaksi Rp1,55 triliun. 

Sentimen pasar sedang menanti dengan antusiasme bagaimana hasil laporan keuangan yang akan dirilis untuk melihat apakah BBCA mampu memenuhi ekspektasi pasar.

Pelemahan Sementara Saham BBCA

Salah satu faktor yang menjelaskan penurunan harga saham BBCA adalah pelemahan yang terjadi secara sektoral di pasar saham. Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menjelaskan bahwa meskipun harga saham BBCA mengalami koreksi, secara historis saham ini telah berada pada level yang cukup murah. 

Hal ini menjadikan saham BBCA memiliki potensi untuk rebound, dengan penurunan yang semakin terbatas dan peluang kenaikan yang lebih besar. 

Jonathan menilai bahwa meskipun pasar saham secara umum sedang melemah, saham BBCA tetap menunjukkan fundamental yang kuat dan dapat kembali menguat seiring dengan kinerja keuangan yang solid.

"Potensi penurunan saham ini sudah lebih kecil dibandingkan potensi kenaikannya, karena valuasi yang sudah relatif diskon, sedangkan fundamental perusahaan masih solid," ujar Jonathan. 

Dia menambahkan bahwa dengan laporan keuangan yang kuat pada tahun 2025, saham BBCA berpeluang untuk mengalami pemulihan yang signifikan.

Kinerja Keuangan BBCA yang Positif

Laporan keuangan BBCA yang dirilis menunjukkan bahwa bank ini telah mencatatkan laba bersih sebesar Rp52,66 triliun hingga November 2025, yang mencatatkan pertumbuhan tahunan (YoY) sebesar 4,35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

Pada November 2024, laba BBCA tercatat mencapai Rp50,47 triliun. Pertumbuhan laba tersebut terutama didorong oleh pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 4,10% YoY, mencapai Rp73,03 triliun per November 2025.

Dengan kinerja yang positif tersebut, BBCA semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia dengan fundamental yang sangat kuat. Ini menjadikannya sebagai pilihan yang menarik bagi para investor, meskipun harga sahamnya sempat turun. 

Perusahaan juga menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk terus berkembang dan mendukung sektor perbankan Indonesia, dengan menjaga posisi mereka di pasar serta fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan.

Prospek Kinerja BBCA di Tahun 2026

Jonathan Gunawan menyebutkan bahwa prospek kinerja BBCA pada tahun 2026 diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 

Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ini antara lain adalah peningkatan pangsa pasar dana murah (Current Account Savings Account/CASA), pendapatan berbasis fee, serta efisiensi biaya operasional. Dengan adanya strategi yang tepat dalam menjaga pertumbuhan kredit yang hati-hati (prudent), BBCA diperkirakan akan semakin menguat di masa depan.

"BBCA melakukan konsolidasi dengan menjaga pertumbuhan kredit secara prudent pada 2025 serta memperbesar pencadangan untuk antisipasi risiko. Tahun ini, bila produk domestik bruto meningkat, maka BBCA akan tumbuh lebih tinggi lagi," jelas Jonathan.

 Strategi untuk menjaga kualitas aset dan meningkatkan efisiensi operasional, diharapkan akan mendorong kinerja keuangan yang lebih baik di tahun 2026.

Dividen dan Sentimen Positif dari Investor

Salah satu faktor penting yang juga mempengaruhi pergerakan harga saham BBCA adalah kebijakan dividen yang telah menjadi perhatian utama bagi para pemegang saham jangka panjang. BBCA dikenal memiliki rekam jejak pembayaran dividen yang stabil dan menarik. 

Dalam tiga tahun terakhir, dividen payout ratio perusahaan minimal berada di angka 65%. Hal ini memberikan kepastian kepada investor bahwa mereka dapat mengharapkan pembagian dividen yang menarik.

Ekspektasi pasar terhadap pembagian dividen di tahun 2026 menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh para investor jangka panjang. Rencana dividen yang dapat diharapkan pada tahun depan kemungkinan akan memberikan sentimen positif yang lebih besar, mendukung keputusan investasi di saham BBCA.

Bloomberg mencatat bahwa konsensus analis memberikan rekomendasi buy sebanyak 92%, sementara 8% memberikan rekomendasi hold. Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi sell untuk saham BBCA. 

Dengan rata-rata target harga saham BBCA yang diprediksi mencapai Rp10.800, saham ini memiliki potensi upside sebesar 41% dalam waktu 12 bulan ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan jangka pendek pada harga saham, prospek jangka panjang BBCA tetap cerah.

Terkini