JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pelaku pasar pada perdagangan Kamis pagi. Di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian, mata uang Garuda justru membuka perdagangan dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa sentimen eksternal mulai mereda, meskipun faktor domestik masih menjadi penentu utama arah rupiah sepanjang hari.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka menguat 20 basis poin atau 0,12% ke level Rp16.936 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau bergerak stagnan di posisi 98,76. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor yang masih mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter negara maju.
Pergerakan Rupiah Di Tengah Pasar Asia
Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Dolar Hong Kong tercatat menguat, seiring dengan penguatan dolar Singapura sebesar 0,05%. Peso Filipina turut mencatatkan apresiasi 0,19%, sementara yuan China menguat 0,04%. Ringgit Malaysia juga bergerak positif meski terbatas dengan kenaikan tipis 0,05%.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru mengalami tekanan. Yen Jepang terkoreksi 0,03% terhadap dolar AS, won Korea Selatan melemah 0,13%, dan rupee India terdepresiasi cukup dalam sebesar 0,8%. Baht Thailand juga tercatat melemah 0,25%.
Perbedaan arah ini mencerminkan respons pasar yang beragam terhadap kondisi global, khususnya terkait kebijakan perdagangan dan suku bunga Amerika Serikat.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Menurutnya, sentimen positif datang dari meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman pengenaan tarif terhadap Eropa. Faktor tersebut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Sentimen Global Dan Domestik Membayangi
Meski demikian, Lukman menilai potensi penguatan rupiah masih cenderung terbatas. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS sepanjang perdagangan.
“Namun, penguatan rupiah diperkirakan terbatas mengingat sentimen domestik masih relatif lemah,” ujarnya.
Sejumlah faktor domestik masih menjadi perhatian pelaku pasar. Isu independensi Bank Indonesia, kondisi defisit anggaran, serta prospek pemangkasan suku bunga acuan menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah. Faktor-faktor tersebut membuat investor cenderung bersikap wait and see, meskipun tekanan global relatif mereda.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa sentimen internal juga dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap berada di level 3,75% dan lending facility bertahan di 5,5%.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Selain itu, langkah tersebut dinilai mampu memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Kendati demikian, Bank Indonesia masih menegaskan bahwa ruang untuk penurunan suku bunga tetap terbuka pada periode mendatang.
Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah di kisaran Rp16.930 hingga Rp16.950 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan tarik-menarik antara sentimen global yang membaik dan faktor domestik yang masih menahan laju penguatan.
Kurs Dolar AS Di Perbankan Nasional
Di tingkat perbankan, kurs dolar AS yang ditawarkan kepada nasabah menunjukkan variasi antarbank. PT Bank Central Asia Tbk. pada pukul 09.50 WIB mematok harga beli dolar AS sebesar Rp16.900 dan harga jual Rp16.920 berdasarkan e-rate.
Sementara itu, melalui TT counter, BCA menetapkan harga beli sebesar Rp16.755 dan harga jual Rp17.055. Untuk transaksi bank notes, harga beli dan jual masing-masing berada di Rp16.755 dan Rp17.055.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menetapkan harga beli dan jual dolar AS melalui e-rate pada pukul 09.11 WIB masing-masing sebesar Rp16.893 dan Rp16.923. Adapun melalui TT counter, BRI mematok harga beli Rp16.820 dan harga jual Rp17.020 per dolar AS.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. pada pukul 09.23 WIB menetapkan harga beli dan jual dolar AS untuk special rate masing-masing sebesar Rp16.890 dan Rp16.910. Untuk TT counter, harga beli dipatok Rp16.770 dan harga jual Rp17.070. Sementara itu, pada bank notes, Bank Mandiri menetapkan harga beli Rp16.730 dan harga jual Rp17.030 per dolar AS.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menetapkan harga beli dan jual dolar AS untuk special rates pada pukul 09.50 WIB masing-masing sebesar Rp16.899 dan Rp16.919.
Melalui TT counter, BNI mematok harga beli Rp16.760 dan harga jual Rp17.050. Untuk transaksi bank notes, harga beli dan jual masing-masing berada di Rp16.760 dan Rp17.050.
Arah Rupiah Menjelang Penutupan
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai kondusif dan faktor domestik yang masih perlu dicermati, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif hingga akhir perdagangan.
Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter Bank Indonesia, dinamika fiskal, serta arah kebijakan global yang dapat memengaruhi aliran modal dan stabilitas nilai tukar.