Bank Lihat Peluang Pertumbuhan Kredit UMKM Meski Tekanan

Senin, 19 Januari 2026 | 10:39:01 WIB
Bank Lihat Peluang Pertumbuhan Kredit UMKM Meski Tekanan

JAKARTA - Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi kinerja sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Tekanan geopolitik, fluktuasi permintaan, hingga kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan pembiayaan membuat segmen ini belum sepenuhnya pulih. 

Meski demikian, sejumlah bank tetap melihat peluang pertumbuhan kredit UMKM pada tahun 2026 dengan strategi yang lebih selektif dan berbasis digital.

Pandangan optimistis tersebut datang dari berbagai bank, termasuk Permata Bank, Allo Bank, dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Ketiganya menilai bahwa meski risiko masih ada, potensi pemulihan tetap terbuka dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan karakteristik pelaku UMKM.

Strategi Prudent Permata Bank Dorong Optimisme UMKM

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyampaikan bahwa tekanan di segmen UMKM diperkirakan masih akan berlanjut pada 2026. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi optimisme bank terhadap peluang pertumbuhan pembiayaan UMKM, terutama dengan dukungan regulasi baru dan percepatan digitalisasi proses kredit.

“Bank tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan UMKM,” kata Meliza kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (18/1/2026).

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Permata Bank menerapkan strategi prudent growth dengan fokus pada segmen mikro dan UMKM yang memiliki rekam jejak digital. Bank juga akan memanfaatkan Innovative Credit Scoring (ICS) untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko debitur.

Selain itu, kolaborasi ekosistem dinilai menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok UMKM. Melalui pendekatan ini, Permata Bank berharap dapat berkontribusi dalam menghidupkan kembali pertumbuhan domestik sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Permata Bank dan Bangkok Bank berkomitmen untuk mendukung nasabah menghadapi tantangan dan menangkap peluang, melalui wawasan, solusi, dan konektivitas di seluruh Asean,” tuturnya.

Tekanan Risiko UMKM Masih Merata Menurut Allo Bank

Pandangan serupa disampaikan oleh Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli. Menurutnya, tekanan di segmen UMKM masih akan berlanjut sepanjang 2026 dengan risiko yang relatif merata di berbagai sektor industri.

Ia menjelaskan bahwa risiko tidak hanya terjadi pada UMKM konsumsi seperti makanan dan minuman, tetapi juga pada UMKM produksi yang menjadi bagian dari ekosistem industri berskala lebih besar. Kondisi ini menuntut lembaga jasa keuangan untuk lebih cermat dalam menyalurkan pembiayaan.

Meski demikian, Ganda menilai peluang usaha masih terbuka, terutama bagi UMKM yang mendukung industri besar yang sedang berkembang. Untuk itu, strategi penyaringan debitur dan pemantauan usaha dinilai sangat penting.

“LJK wajib memiliki strategi filtering yang baik dan monitoring usaha sangat diperlukan untuk menghadapi dan keseimbangan peluang dan risiko tersebut,” jelas Ganda kepada Bisnis.

Pendekatan Ekosistem Jadi Andalan BSI

Berbeda dengan pendekatan selektif berbasis risiko, Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy melihat peluang rebound kredit UMKM cukup besar, seiring stabilitas ekonomi yang mulai membaik. BSI mengandalkan strategi pembiayaan berbasis ekosistem untuk mendorong pertumbuhan kredit.

“Strategi utama BSI adalah masuk ke dalam ekosistem [ecosystem based financing],” ungkap Kemas kepada Bisnis.

Melalui strategi ini, BSI tidak lagi menyasar debitur secara individual dan acak. Sebaliknya, bank masuk melalui rantai pasok industri halal, pesantren, hingga komunitas tertentu yang dinilai memiliki keberlanjutan usaha.

Menurut Kemas, faktor risiko tetap ada dalam penyaluran kredit UMKM. Namun, risiko tersebut dimitigasi melalui digitalisasi proses bisnis dan sistem scoring yang lebih akurat, sehingga kualitas pembiayaan tetap terjaga.

“Faktor risiko tetap ada, namun kami memitigasinya dengan digitalisasi proses bisnis dan scoring yang lebih akurat,” katanya.

Data BI Gambarkan Tantangan Kredit UMKM

Di tengah berbagai strategi tersebut, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa kredit UMKM masih menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan Perkembangan Uang Beredar BI, penyaluran kredit kepada UMKM pada November 2025 tercatat sebesar Rp1.493,8 triliun atau terkontraksi 0,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini lebih dalam dibandingkan kontraksi 0,1% YoY pada Oktober 2025.

“Penyaluran kredit kepada UMKM pada November 2025 terkontraksi sebesar 0,7% YoY,” tulis BI dalam laporannya.

BI mengungkapkan bahwa kontraksi tersebut terutama didorong oleh penurunan kredit skala mikro dan menengah. Kredit mikro mengalami kontraksi sebesar 5,5% YoY, sementara kredit menengah turun 0,6% YoY. Pada Oktober 2025, kedua segmen ini juga tercatat mengalami penurunan.

Sementara itu, kredit UMKM skala kecil masih mencatatkan pertumbuhan. Pada November 2025, kredit skala kecil mencapai Rp526,9 triliun atau tumbuh 5,9% YoY, meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 yang sebesar 6,4% YoY.

Dari sisi penggunaan, BI mencatat bahwa kontraksi kredit UMKM dipengaruhi oleh Kredit Modal Kerja yang turun 4,1% YoY. Data ini menunjukkan bahwa pemulihan UMKM masih membutuhkan waktu, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka dengan strategi pembiayaan yang tepat.

Terkini