JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) baru-baru ini mengeluarkan kebijakan strategis yang mengharuskan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama yang bergerak di sektor pelayaran dan kereta api, untuk memesan produk buatan PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.
Instruksi tersebut disampaikan oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, dalam sebuah diskusi publik yang digelar di Jakarta pada akhir Januari 2026.
Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri manufaktur domestik serta mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Menurut Dony Oskaria, langkah ini merupakan bagian dari strategi Danantara untuk mengembangkan kapasitas industri strategis nasional dalam jangka panjang.
Selain itu, kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki sinergi antar-BUMN dan memberikan dukungan terhadap industri dalam negeri.
Dengan cara ini, diharapkan akan tercipta penguatan dalam sektor-sektor yang berperan besar bagi ketahanan ekonomi nasional, seperti industri kapal dan kereta api.
Pengadaan Kapal untuk BUMN Pelayaran: Fokus pada Produk Lokal
Salah satu implementasi utama dari instruksi Danantara adalah kewajiban bagi perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelayaran untuk membeli atau membangun kapal baru di galangan kapal nasional, khususnya PT PAL Indonesia.
Beberapa perusahaan BUMN yang terlibat dalam sektor ini antara lain PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk kapal yang digunakan oleh BUMN pelayaran berasal dari industri domestik.
Berdasarkan keterangan Dony Oskaria, kebijakan ini merupakan bentuk dukungan terhadap PT PAL Indonesia yang sebelumnya telah melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat kapasitas produksi dan daya saing.
Instruksi ini dianggap sangat penting karena memberikan jaminan permintaan dari BUMN bagi galangan kapal nasional, yang pada gilirannya akan memperkuat industri perkapalan dalam negeri.
Dengan adanya kepastian permintaan, diharapkan perusahaan-perusahaan galangan kapal nasional akan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, yang berujung pada penyerapan tenaga kerja lebih banyak serta meningkatkan daya saing produk.
Lebih lanjut, Dony menekankan bahwa kebijakan ini bukan hanya sekedar mengutamakan preferensi lokal, melainkan juga bagian dari upaya untuk menciptakan keberlanjutan bagi industri berat nasional.
Menurutnya, tanpa dukungan dan perlindungan terhadap industri dalam negeri, sektor manufaktur strategis akan kesulitan untuk berkembang.
INKA dan Transformasi untuk Meningkatkan Produksi Kereta Api Nasional
Selain sektor perkapalan, Danantara juga menyoroti peran penting PT Industri Kereta Api (INKA) dalam memperkuat industri manufaktur strategis nasional. INKA menjadi fokus utama dalam pengadaan kereta api dan komponennya.
Dony Oskaria menjelaskan bahwa transformasi INKA kini sudah masuk dalam rencana kerja perusahaan untuk tahun 2026. Proses transformasi ini mencakup peningkatan kinerja keuangan dan penguatan fasilitas produksi, khususnya di pabrik INKA yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur.
INKA kini tengah fokus untuk memenuhi kebutuhan modernisasi armada kereta api nasional, salah satunya dengan memproduksi gerbong dan lokomotif baru yang akan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).
Sejalan dengan hal ini, PT KAI juga memiliki rencana besar untuk melakukan pembaruan terhadap armada kereta api, termasuk pengadaan 30 trainset untuk kereta rel listrik (KRL).
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa KAI akan mengutamakan produksi dalam negeri dalam pengadaan 30 rangkaian KRL tersebut, yang menjadi bagian dari permintaan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Bobby memastikan bahwa PT KAI akan berfokus pada pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam proyek pengadaan KRL, yang diperkirakan menggunakan anggaran sebesar Rp5 triliun.
Dengan memastikan komponen dalam negeri yang tinggi, proyek ini tidak hanya mendukung produk lokal, tetapi juga memperkuat industri kereta api nasional.
Selain itu, Bobby juga memastikan bahwa meskipun waktu pengadaan cukup terbatas, PT KAI akan berusaha keras untuk menyelesaikan proyek ini sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan.
Membangun Ketahanan Industri Manufaktur Melalui Kolaborasi BUMN
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Danantara ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antar-BUMN untuk memperkuat ketahanan industri dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin menyadari pentingnya mengurangi ketergantungan pada produk impor, terutama dalam sektor-sektor strategis seperti kapal dan kereta api. Oleh karena itu, penguatan sektor manufaktur dalam negeri menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.
Danantara, sebagai lembaga yang bertugas mengelola investasi strategis, melihat kolaborasi antar-BUMN sebagai langkah kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Dony Oskaria menegaskan bahwa dengan memprioritaskan pengadaan produk dalam negeri, Indonesia akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengelola industri manufaktur strategis.
Selain itu, instruksi ini juga diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan lebih luas, meningkatkan kapasitas produksi, dan akhirnya meningkatkan kualitas produk yang dapat bersaing di pasar internasional.
Dengan langkah-langkah strategis yang terus diambil oleh Danantara dan perusahaan-perusahaan BUMN, industri manufaktur Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih kuat dan mandiri.
Ke depannya, diharapkan sektor-sektor lain juga dapat mengadopsi kebijakan serupa untuk lebih mengoptimalkan penggunaan produk lokal dan mengurangi ketergantungan pada produk asing.